Kisah ini terjadi sekitar 1432 tahun yang lalu. Disebuah kerajaan di negeri Yaman. Hiduplah seorang raja yang jahat, raja yang sombong, raja yang menganggap dirinya tidak terkalahkan bernama Abrahah. Abrahah berhidung pesek karena terpotong saat dia menaklukan negeri Yaman. postur tubuhnya tinggi, besar dan hitam. Pasukannya sangat banyak dan kuat. Abrahah suka sekali berperang dan menaklukan negara-negara disekitarnya untuk dijadikan jajahan.

Suatu saat ketika Abrahah mendengar laporan bahwa Ka’bah di Mekkah semakin ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai negara. Abrahah marah sekali. Melihat ka’bah yang semakin ramai Abrahah pun membangun suatu bangunan. Dikisahkan pada waktu itu Abrahah membangun sebuah katedral di San’a yang dikenal sebagai “al-Qulays”. Sebagai tandingan Ka’bah di Mekkah.

Ternyata setelah dibangun bangunan yang megah dan mewah. Keadaan juga berubah. Bnaguna sebesar itu kosong dan sepi pengunjung. Bahkan
beberapa orang ada yang buang air besar di gedung barunya itu. Api kemarahan Abrahah
semakin berkobar-kobar. Dada Abrahah dipenuhi kesombongan itu semakin padat oleh kebencian.

hari itu juga, Abrahah menyiapkan seluruh pasukannya, lengkap dengan senjata dan tunggangan yang terpilih layaknya menghadapi perang besar. Gajah dan kuda. Berangkatlah Abrahah beserta tentara bergajahnya,tentara berkuda juga, suara lengkingan gajah, ringkik kuda, derap kaki gajah, derap langkah kuda, genderang perang yang bertalu-talu, dan terompet yang melengking keras membuat rombongan pasukan ini semakin mengerikan.

Abrahah dan tetara gajahnya ingin menghancurkan Ka’abah, tempat yg diagungkan suku kaum Arab itu. Abrahah dengan yakin akan kekuatan tenteranya untuk menyelesaikan misinya. Pasukan Abrahah yang seperti badai gurun itu dalam perjalanan mereka ke Meakkah, dengan mudah mengalahkan beberapa suku kaum Arab dan merampas harta bendanya.

Setelah tiba di Taif, penduduk Taif tidak berani utk menentang tentera Abrahah, malah memberikan jalan kepada mereka. Salah seorang daripada penduduk Taif juga telah
menjadi “Volunteer” atau bahasa kasarnya pengkhianat atau penunjuk jalan kepada Abrahah untuk sampai ke Makkah, bernama Zu Rughal yg akhirnya mati sebelum sempat sampai ke Ka’abah.

Beberapa saat sebelum penghancuran Ka’bah, Abrahah memberi waktu kepada seluruh penduduk Mekkah untuk segera meninggalkan Mekkah dan mengungsi. Abdul Muthollib menginstruksikan kepada kaumnya untuk segera berlindung dan mengungsi dibalik bukit-bukit disekitar Mekkah.

Dalam perjalanan ekspansi pasukan Abrahah menuju penghancuran Ka’bah, ternyata Abrahah telah merampas unta-unta milik penduduk Mekkah dan sekitarnya, termasuk unta milik Abdul Muthollib. Maka kakek Nabi ini memberanikan diri untuk meminta kembali unta-unta yang dirampas Abrahah. Demi untuk mendapatkan kembali harta bendanya, Abdul Muthallib pun mengunjungi tenda peristirahatan Abrahah seorang diri tanpa pengawalan. Dan dialog pun terjadi di antara mereka.

“Ada perlu apa Anda menemui aku?” tanya Abrahah.

“Anda telah merampas 200 ekor unta milikku dan 400 ekor unta milik penduduk Mekkah. Aku datang untuk meminta Anda mengembalikan semua itu kepada kami”, jawab Abdul Muthallib.

Abrahah terkejut dan tertawa terbahak-bahak sambil mengejek, “Anda ini aneh sekali. Saya datang hendak merobohkan Ka’bah, dan Anda datang kepadaku dengan urusan yang remeh? Dimanakah nyali dan harga diri Anda? Pantaskah Ka’bah yang Anda dan bangsa Arab yang dimuliakan itu sedang dalam keadaan bahaya, justru Anda hanya menuntut onta Anda dikembalikan?”

“Tentu saja”, sanggah Abdul Mutthalib. “Unta-unta itu kepunyaanku dan penduduk Mekkah. Maka aku wajib memeliharanya. Sedangkan Ka’bah bukan kepunyaanku. Ka’bah adalah kepunyaan Allah, maka Dia-lah yang akan melindungi dan memeliharanya”.

Kembali Abrahah tertawa terbahak-bahak seolah melecehkan perkataan Abdul Muthallib, “Apakah Allah yang konon pemilik Ka’bah itu akan mampu merintangiku menghancurkannya? Mana Allah, mana Allah suruh dia datang kesini menghadapku! ha ha ha ha”

“Aku tidak tahu, itu urusan Allah. Tapi aku yakin, Allah tidak akan membiarkan milik-Nya dinodai oleh siapa pun” jawab Abdul Muthalib.

“Jadi Anda tidak ingin memintaku untuk menghentikan niatku menghancurkan Ka’bah?” kata Abrahah.

Abdul Muthallib menggelengkan kepala, “Tidak!.”

Jawaban yang tenang dan meyakinkan dari Abdul Muthallib membuat Abrahah tidak tenang. Namun dia tidak peduli dengan kerisauannya. Meski hatinya di dera rasa was-was dan risau, namun Abrahah tetap melanjutkan niatnya dan segera memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan unta-unta bangsa Arab, kemudian menyelesaikan misinya yaitu menghancurkan Ka’bah.

Majulah pasukan bergajah menuju ka’bah, debu beterbangan dan mengepul layaknya badai. orang-orang Mekah pun lari tunggang langgang sambil berteriak
tolong………………….(anak kecil)
tolong……………..(orang tua)
tolong…………….(ibu2)

Detik-detik penghancuran pun tiba, Abrahah dan pasukan bergajah nya mulai mendekati Ka’bah. Abrahah merasa yakin bahwa dia akan dapat menghancurkan Ka’bah dengan sangat mudah. Namun apa yang terjadi selanjutnya?? Kekuasaan dan pertolongan Allah pun tiba. Di awali dengan enggan nya gajah-gajah tersebut menyentuh Ka’bah, seolah-olah gajah-gajah itu tahu bahwa sebentar lagi mereka akan mengalami nasib tragis dan mengerikan.

Di langit awan hitam bergulung, angin semakin kencang beberapa disertai kilat yang menjulur-julur bercabang, dentuman petir semakin bergemuruh. membuat suasana semakin mencekam. Pasukan semakin panik. Atas pertolongan Allah terjadi hujan batu panas yang dibawa oleh burung Ababil yang jumlahnya miliaran yang bergumpal dan bergulung-gulung seperti awan hitam.

Setiap batu yang menyentuh benda, benda tersebut terbakar dan hancur lebur. setiap batu tersebut mengenai daging pasukan bergajah tersebut seketika itu pula kulit dan daging mereka meleleh, sampai akhirnya batu-batu tersebut menembus tulang belulang hingga tulang-tulang itupun hancur.

Kesombongan dan kejahatan pasukan gajah yang dipimpin raja Abrahah di hadapan Allah hanyalah daun yang dikerubuti ribuan ulat. Nyaris bangkai pasukan tidak tersisa akibat batu-batu yang dibawa burung Ababil. Sirnalah kejahatan dan kebathilan dan jayalah kebenaran.

Hampir bersamaan dengan hancurnya pasukan gajah ada peristiwa penting saat itu yaitu lahir seorang anak laki-laki cucu Abdul mutholib dari seorang ibu yang bernama Aminah.
bayi mungil itu dibawa ke ka’bah oleh kakeknya dan diberi nama Muhammad.

Nabi Muhammad ketika lahir sudah tidah punya ayah atau seorang yatim. ayahnya (Abdullah) meninggal pada saat beliau masih dalam kandungan. Ibunya meninggal pada saat beliau masih balita,kemudiaan diasuh oleh kakeknya. Setelah kakeknya meninggal diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Tholib.

Adapun sifat nabi yang empat yaitu FAST.
Fathonah (cerdas/skill)
Amanah (dapat dipercaya/professional)
Sidiq (juju/karakter)
Tabligh(menyampaikan/total action)

Ambil hikmah dari lahirnya seorang cahaya ummat dan pembawa risalah rahmatan lil alamain.

Allahumma shalli ala muhammad.